Selawat Taisiir, Selawat Kemudahan
Selawat Taissir (Selawat Kemudahan) adalah salah satu bentuk selawat ghairo ma'tsur (selawat yang disusun oleh para ulama kekasih Allah, bukan redaksi langsung dari hadis Nabi) yang sangat populer di kalangan pesantren dan pencinta selawat.
Secara bahasa, Taissir (تَÙŠْسِÙŠْر) berarti "memudahkan" atau "pemberian kemudahan". Sesuai namanya, selawat ini dipanjatkan khusus sebagai wasilah (perantara) doa untuk memohon jalan keluar dari segala kesempitan dan kesulitan hidup.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai cara baca, makna, sejarah/sanad, manfaat, serta tinjauan referensi ilmiahnya.
1. Teks Arab, Latin, dan Cara Baca
Redaksi Selawat Taissir sangat ringkas namun sarat makna. Berikut adalah detail cara membacanya:
Teks Arab:
اَللّÙ‡ُÙ…َّ صَÙ„ِّ عَÙ„َÙ‰ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØَÙ…َّدْ، سَÙ‡ِّÙ„ْ ÙˆَÙŠَسِّرْ Ù…َا تَعَسَّرْ
Teks Transliterasi (Latin):
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, sahhil wa yassir ma ta‘assar.
Cara Baca yang Benar:
- Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad (Berhenti sejenak/waqaf).
- Sahhil wa yassir maa ta'assar (Huruf 'sin' pada sahhil dan yassir dibaca bersih, huruf 'ain' pada ta'assar ditekan di tenggorokan, dan diakhiri dengan huruf 'ra' sukun yang tegas).
2. Makna dan Kandungan Spiritual
Secara harfiah, selawat ini memiliki arti sebagai berikut:
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat takzim kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Gampangkanlah dan mudahkanlah apa-apa yang sulit (terasa sukar)."
Kandungan spiritual dari selawat ini menggabungkan dua rukun doa yang sangat kuat dalam Islam:
- Pujian kepada Baginda Nabi Muhammad ï·º: Sebagai bentuk adab tertinggi dalam berdoa. Ulama menyatakan bahwa doa yang diawali dan diakhiri dengan selawat tidak akan ditolak oleh Allah SWT.
- Pengakuan Kelemahan Diri (Iftiqar): Kalimat sahhil wa yassir ma ta'assar adalah bentuk penyerahan diri total bahwa tidak ada yang mudah kecuali apa yang dijadikan mudah oleh Allah SWT.
3. Sanad dan Sejarah Redaksi
Dalam khazanah keilmuan Islam, selawat ini dikategorikan sebagai Selawat Istighatsah/Ijazah.
Sanad Mujiz (Pemberi Ijazah)
Secara sejarah mutakhir di Indonesia, redaksi doa dan selawat model ini banyak diijazahkan oleh para ulama Nusantara, salah satunya jalurnya mengalir dari rahim Pondok Pesantren Lirboyo (Kediri) dan para ulama thariqah. Kalimat “Sahhil wa yassir ma ta’assar” sendiri bersumber dari petikan doa-doa kesembuhan dan kemudahan klasik yang sering diajarkan oleh para ulama salaf (terdahulu) sekelas Imam Al-Ghazali dan ulama mazhab Syafi'i sebagai amalan harian (wirid).
Sanad selawat ini menyambung secara ijazah ammah (ijazah umum) maupun khassah (khusus) dari guru ke guru (kyai/syekh) hingga bermuara pada kesepakatan (ijma') para ulama bahwa menyandingkan permohonan hajat dengan selawat adalah hal yang dianjurkan (masyru').
4. Manfaat dan Keutamaan Khasiat
Berdasarkan mujarobat (pengalaman spiritual para ulama) dan kandungan maknanya, membaca Selawat Taissir secara istikamah membawa manfaat nyata:
- Mengurai Kebuntuan Hidup: Menjadi wasilah ketika seseorang menghadapi masalah pelik yang tak kunjung ada jalan keluarnya (masalah keuangan, jodoh, kerjaan).
- Ketenangan Hati (Anxiolytic Spiritual): Mengurangi kecemasan saat menghadapi ujian atau tekanan hidup yang berat.
- Melancarkan Urusan Rezki: Membuka pintu-pintu kemudahan dari arah yang tidak disangka-sangka.
5. Referensi Ilmiah dan Tinjauan Syariat
Secara metodologi hukum Islam (Fiqh), keabsahan mengamalkan Selawat Taissir didasarkan pada referensi kitab-kitab muktabar berikut:
A. Kebolehan Menyusun Redaksi Selawat Baru
Dalam kitab As-Syamail al-Muhammadiyah dan Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari), Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa para sahabat Nabi (seperti Sayyidina Ali dan Ibnu Mas'ud) pernah menyusun redaksi selawat sendiri yang tidak diajarkan langsung oleh Nabi, dan hal itu diperbolehkan selama isinya tidak melanggar akidah.
B. Dalil Bertawasul dengan Selawat
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab monumental tentang selawat, Jala'ul Afham fi Fadhlis Shalati 'ala Khairil Anam, menyebutkan:
"Membaca selawat sebelum berdoa adalah sebab utama dikabulkannya hajat dan diangkatnya kesulitan hidup."
C. Teori Psikologi Agama (Referensi Ilmiah Modern)
Secara ilmiah (Psikologi dan Neurosains), pengulangan kalimat afirmatif yang mengandung unsur pasrah kepada kekuatan yang lebih tinggi (coping mechanism) seperti dalam kalimat sahhil wa yassir, terbukti secara klinis dapat menurunkan hormon kortisol (stres) dan merangsang gelombang alfa di otak, sehingga memicu ketenangan saraf yang membuat seseorang bisa berpikir lebih jernih dalam menyelesaikan masalahnya.
Rekomendasi Amalan
Para ulama menyarankan untuk membaca selawat ini sebanyak 7 kali setiap selesai salat fardu, atau 111 kali di sepertiga malam terakhir saat menghadapi urusan yang sangat genting.
